KULIAH KE-5 :KAMIS, 13 OKTOBER 2011
TEORI DIFUSI INOVASI
Latar Belakang Teori
Teori Difusi Inovasi muncul awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”.
Tahun 1940, dua orang sosiolog, Bryce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian difusi di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasi model kurva S. Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a cumulative basis over time.”
Tahun 1960, penelitian difusi dikaitkan dengan berbagai topik seperti bidang pemasaran, budaya, dsb. Muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers dengan Diffusion of Innovation (1961); F. Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).
Esensi Teori
Teori Difusi Inovasi menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Pengertian difusi menurut Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system.” Difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.”
Dalam proses difusi inovasi terdapat 4 elemen pokok :
1) Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang.
2) Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima.
3) Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu.
4) Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama
Teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi. Variabel yang berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi tersebut :
1) atribut inovasi (perceived atrribute of innovasion),
2) jenis keputusan inovasi (type of innovation decisions),
3) saluran komunikasi (communication channels),
4) kondisi sistem sosial (nature of social system), dan
5) peran agen perubah (change agents).
Sementara itu tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi mencakup:
1. Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi dan keuntungan/manfaat dan bagaimana suatu inovasi berfungsi
2. Tahap Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik
3. Tahap Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi.
4. Tahapan Implementasi (Implementation), ketika sorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi.
5. Tahapan Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya.
Adopter
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961). Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1. Innovators: individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2. Early Adopters (Perintis/Pelopor): para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
3. Early Majority (Pengikut Dini): Para pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4. Late Majority (Pengikut Akhir): Pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5. Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): Kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.
Penerapan dan keterkaitan teori
Pada awalnya, dan perkembangan berikutnya, teori Difusi Inovasi dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat. Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat. Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa proses difusi merupakan bagian dari proses perubahan sosial. Perubahan sosial adalah proses dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial.
Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan:
1) Penemuan (invention),
2) difusi (diffusion),
3) konsekuensi (consequences).
Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan.
Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial,
Konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.
Sejak tahun 1960-an, teori difusi inovasi mulai dikaitkan dengan berbagai fenomena kontemporer yang berkembang di masyarakat. Berbagai perpektif pun menjadi dasar dalam pengkajian proses difusi inovasi,seperti perspektif ekonomi, perspektif ’market and infrastructure’ (Brown, 1981).
Salah satu definisi difusi inovasi dikemukakan Parker (1974), yang mendefinisikan difusi sebagai suatu proses yang berperan memberi nilai tambah pada fungsi produksi atau proses ekonomi. Difusi merupakan suatu tahapan dalam proses perubahan teknik (technical change). Menurutnya difusi merupakan suatu tahapan dimana keuntungan dari suatu inovasi berlaku umum. Dari inovator, inovasi diteruskan melalui pengguna lain hingga akhirnya menjadi hal yang biasa dan diterima sebagai bagian dari kegiatan produktif.
Berkaitan dengan proses difusi inovasi tersebut National Center for the Dissemination of Disability Research (NCDDR), 1996, menyebutkan ada 4 (empat) dimensi pemanfaatan pengetahuan (knowledge utilization), yaitu
1. Dimensi Sumber diseminasi, yaitu insitusi, organisasi, atau individu yang bertanggunggung jawab dalam menciptakan pengetahuan dan produk baru.
2. Dimensi Isi yang didiseminasikan, yaitu pengetahuan dan produk baru dimaksud yang juga termasuk bahan dan informasi pendukung lainnya.
3. Dimensi Media Diseminasi, yaitu cara-cara bagaimana pengetahuan atau produk tersebut dikemas dan disalurkan.
4. Dimensi Pengguna , yaitu pengguna dari pengetahuan dan produk dimaksud.
Referensi
Hanafi, Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional
Rogers, E.M. dan Shoemaker, F.F., 1971, Communication of Innovations, London: The Free Press.
Rogers, Everett M., 1983, Diffusion of Innovations. London: The Free Press.
Rogers, Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.
Brown, Lawrence A., Innovation Diffusion: A New Perpevtive. New York: Methuen and Co.
ETIKA KOMUNIKASI, FILSAFAT KOMUNIKASI, MANAJEMEN PERIKLANAN, RETORIKA, PERENCANAAN MEDIA DAN KOMUNIKASI SOSIAL PEMBANGUNAN
Kamis, 13 Oktober 2011
MANAJEMEN PERIKLANAN-KULIAH KE-5/GANJIL2011
KULIAH K-5 : 13 Oktober 2011
Pokok Bahasan : TUJUAN DAN ANGGARAN PERIKLANAN
MENGAPA PERUSAHAAN BERIKLAN
1. Menyampaikan informasi
2. Menciptakan Brand Awareness
3. Membentuk citra
4. Menciptakan Kepribadian pada suatu produk
5. Membantu positioning di pasar
6. Membantu menciptakan segmen baru
7. Menarik konsumen baru
8. Meningkatkan penggunaan suatu produk
9. Mendidik masyarakat
TUJUAN PERIKLANAN
1. Menciptakan pengenalan merek/produk/perusahaan
2. Memposisikan
3. Mendorong prospek untuk mencoba
4. Mendukung terjadinya penjualan
5. Membina Loyalitas
6. Mengumumkan cara baru penggunaan
7. Mengangkat Citra
ANGGARAN PERIKLANAN
Agar dengan Investasi optimal dapat memaksimalkan laba, dalam menyusun Anggaran periklanan harus mempertimbangkan faktor2 :
1. Tujuan periklanan
2. Aktivitas iklan pesaing
3. Jumlah dana yang tersedia untuk beriklan
Penetapan Anggaran Periklanan
Faktor2 untuk dipertimbangkan dalam penetapan anggaran periklanan (Darmadi Durianto) :
1. Tahapan siklus hidup produk (Product Life Cycles)
2. Pangsa pasar dan basis konsumen
3. Persaingan dan Gangguan
4. Frekwensi periklanan
5. Kemungkinan substitusi produk
Metode Penganggaran Periklanan
1. Metode Anggaran Persentase Penjualan
2. Metode Tujuan dan Tugas
3. Metode Penyamaan dengan Pesaing
4. Metode sesuai Kemampuan
Pokok Bahasan : TUJUAN DAN ANGGARAN PERIKLANAN
MENGAPA PERUSAHAAN BERIKLAN
1. Menyampaikan informasi
2. Menciptakan Brand Awareness
3. Membentuk citra
4. Menciptakan Kepribadian pada suatu produk
5. Membantu positioning di pasar
6. Membantu menciptakan segmen baru
7. Menarik konsumen baru
8. Meningkatkan penggunaan suatu produk
9. Mendidik masyarakat
TUJUAN PERIKLANAN
1. Menciptakan pengenalan merek/produk/perusahaan
2. Memposisikan
3. Mendorong prospek untuk mencoba
4. Mendukung terjadinya penjualan
5. Membina Loyalitas
6. Mengumumkan cara baru penggunaan
7. Mengangkat Citra
ANGGARAN PERIKLANAN
Agar dengan Investasi optimal dapat memaksimalkan laba, dalam menyusun Anggaran periklanan harus mempertimbangkan faktor2 :
1. Tujuan periklanan
2. Aktivitas iklan pesaing
3. Jumlah dana yang tersedia untuk beriklan
Penetapan Anggaran Periklanan
Faktor2 untuk dipertimbangkan dalam penetapan anggaran periklanan (Darmadi Durianto) :
1. Tahapan siklus hidup produk (Product Life Cycles)
2. Pangsa pasar dan basis konsumen
3. Persaingan dan Gangguan
4. Frekwensi periklanan
5. Kemungkinan substitusi produk
Metode Penganggaran Periklanan
1. Metode Anggaran Persentase Penjualan
2. Metode Tujuan dan Tugas
3. Metode Penyamaan dengan Pesaing
4. Metode sesuai Kemampuan
Sabtu, 23 Oktober 2010
ETIKA PROFESI
Kuliah #5
ETIKA PROFESI
Etika merupakan prinsip-2 moralitas yang mengatur dan menjadi pedoman bagi pada pelaku bisnis/profesi. Dimulai dari ketika melakukan pemikiran, menciptakan, dan mengambil berbagai keputusan dalam menjalankan bisnis/profesinya.
Karena pentingnya etika, hampir semua profesi saat ini memiliki kode etika profesi dalam bentuk peraturan tertulis. Memiliki sanksi sebagaimana peraturan lainnya bagi pelaku yang dianggap melanggarnya. http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/prolog.html
Pentingnya ETIKA PROFESI
Etika diwujudkan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip2 moral yang ada.
Pada saat yang dibutuhkan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
KODE ETIK PROFESI
Menurut UU NO. 8 (Pokok2 Kepegawaian)
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik profesi diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-2 tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh kelompok itu.
TUJUAN KODE ETIK PROFESI
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
FUNGSI KODE ETIK PROFESI
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi.
ETIKA PROFESI BIDANG KOMUNIKASI :
Etika Pariwara Indonesia, (EPI)
Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS)
dsb.
Tugas
Untuk mahasiswa kelas Etika Komunikasi agar mempelajari bagaimana Kode Etik dan Aturan2 profesi bidang Komunikasi dengan mengujungi website organisasi2 profesi seperti PPPI dsb.
ETIKA PROFESI
Etika merupakan prinsip-2 moralitas yang mengatur dan menjadi pedoman bagi pada pelaku bisnis/profesi. Dimulai dari ketika melakukan pemikiran, menciptakan, dan mengambil berbagai keputusan dalam menjalankan bisnis/profesinya.
Karena pentingnya etika, hampir semua profesi saat ini memiliki kode etika profesi dalam bentuk peraturan tertulis. Memiliki sanksi sebagaimana peraturan lainnya bagi pelaku yang dianggap melanggarnya. http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/prolog.html
Pentingnya ETIKA PROFESI
Etika diwujudkan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip2 moral yang ada.
Pada saat yang dibutuhkan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
KODE ETIK PROFESI
Menurut UU NO. 8 (Pokok2 Kepegawaian)
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik profesi diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-2 tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh kelompok itu.
TUJUAN KODE ETIK PROFESI
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
FUNGSI KODE ETIK PROFESI
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi.
ETIKA PROFESI BIDANG KOMUNIKASI :
Etika Pariwara Indonesia, (EPI)
Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS)
dsb.
Tugas
Untuk mahasiswa kelas Etika Komunikasi agar mempelajari bagaimana Kode Etik dan Aturan2 profesi bidang Komunikasi dengan mengujungi website organisasi2 profesi seperti PPPI dsb.
Rabu, 20 Oktober 2010
PARTISIPASI PEMBANGUNAN
MK. KOMUNIKASI SOSIAL PEMBANGUNAN
PRODI TEKNIK LINGKUNGAN FTM UPNYK
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN
Pentingnya arti partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Diana Conyers : 1954) :
a. Merupakan alat memperoleh informasittg kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat.
b. Pelibatan masyarakat akakn membuat merek lebih percaya dan merasa memiliki proyek / program pembangunan
c. Pelibatan masyarakat dlm pembangunan merupakan hak demokrasi.
ESENSI, DEFINISI PARTISIPASI MASYARAKAT
Partisipasi mutlak diperlukan karena pada akhirnya masyarakatlah yang akan menikmati hasil pembangunan.
Menurut Mubyarto (1988) : partisipasi adalah kesediaan untuk membantu berhasilnya program pembangunan sesuai kemampuannya tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Partisipasi merupakan keikutsertaan masyarakat secara suka rela untuk membantu keberhasilan program pembangunan.
KETERKAITAN ANTARA PARTISIPASI DENGAN PEMBANGUNAN.
Menurut Bintoro Tjokroamijoyo (1988) :
Partisipasi masyarakat dlm penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan oleh pemerinath.
Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggungjawab dalam pembangunan.
Keterlibatan dalam memetik hasil dan menerima manfaat pembangunan secara berkeadilan.
Referensi :
Dikutip dari buku : Pengembangan Masyarakat, tulisan Suparjan dan Hempri Suyatno, halaman :53-58, diterbitkan oleh Aditya Media, Yogyakarta tahun 2003.
PRODI TEKNIK LINGKUNGAN FTM UPNYK
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN
Pentingnya arti partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Diana Conyers : 1954) :
a. Merupakan alat memperoleh informasittg kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat.
b. Pelibatan masyarakat akakn membuat merek lebih percaya dan merasa memiliki proyek / program pembangunan
c. Pelibatan masyarakat dlm pembangunan merupakan hak demokrasi.
ESENSI, DEFINISI PARTISIPASI MASYARAKAT
Partisipasi mutlak diperlukan karena pada akhirnya masyarakatlah yang akan menikmati hasil pembangunan.
Menurut Mubyarto (1988) : partisipasi adalah kesediaan untuk membantu berhasilnya program pembangunan sesuai kemampuannya tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Partisipasi merupakan keikutsertaan masyarakat secara suka rela untuk membantu keberhasilan program pembangunan.
KETERKAITAN ANTARA PARTISIPASI DENGAN PEMBANGUNAN.
Menurut Bintoro Tjokroamijoyo (1988) :
Partisipasi masyarakat dlm penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan oleh pemerinath.
Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggungjawab dalam pembangunan.
Keterlibatan dalam memetik hasil dan menerima manfaat pembangunan secara berkeadilan.
Referensi :
Dikutip dari buku : Pengembangan Masyarakat, tulisan Suparjan dan Hempri Suyatno, halaman :53-58, diterbitkan oleh Aditya Media, Yogyakarta tahun 2003.
TEORI DIVUSI INOVASI
MK Komunikasi Sosial Pembangunan
Prodi Teknik Lingkungan FTM UPNYK
TEORI DIVUSI INOVASI
Muncul tahun 1903, ketika sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva menggambarkan suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Terdapat dua sumbu menggambarkan tingkat adopsi dan dimensi waktu.
Teori dikembangkan oleh ROGER & SHOEMAKER (1971) :
a. Studi Divusi mengkaji pesan2 (ide atau gagasan) baru.
b. Pesan baru tsb menimbulkan suatu derajad resiko pada penerima. Penyebarserapan Inovasi menyebabkan masyarakat berubah.
c. Masuknya Inovasi dalam sistem masyarakat disebabkan oleh Komunikasi antar anggota masyarakat. Komunikasi menjadi faktor penting dlam perubahan sosial.
UNSUR-UNSUR PROSES DIVUSI INOVASI (ROGER & SHOEMAKER : 1971) :
a. Suatu Inovasi
b. Dikomunikasikan melalui Saluran Tertentu
c. Dalam suatu Jangka Waktu
d. Di antara anggota sistem sosial.
INOVASI
a. Segala sesuatu Ide, cara-cara, ataupun obyek yang dioperasikan oleh seseorang sebsgsi sesuatu yang baru.
b. Segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya (Havelock, 1973)
Ada 5 atribut, yang menandai Inovasi bagi masyarakat / klien.
a. Keuntungan2 relatif (relative advantage)
b. Keserasian (compatibility)
c. Kermitan (complexity)
d. Dapat dicobakan (triability)
e. Dapat dilihat (observability)
Ada 5 kelompok masyarakat yang menghadapi Inovasi (Roger & Shoemaker 1971) :
a. Inovator
b. Penerima dini (early adopter)
c. Mayoritas dini (early majority)
d. Mayoritas belakangan (late majority)
e. Laggards.
Ada 5 Tahapan penerimaan Inovasi / Tahap Putusan Inovasi.
a. Tahap Pengetahuan
b. Tahap Bujukan
c. Tahap Putusan
d. Tahap Implementasi
e. Tahap Pemastian
AGEN PERUBAHAN (CHANGE AGENTS)
Adalah sejumlah orang yg mempelopori, menggerakkan dan menyebarluaskan proses perubahan sosial.
Menurut Duncan dan Zaltman, harus memliki kompetensi dasar :
a. Kualifikasi Tekhnis
b. Kemampuan Administratif (mengalokasikan waktu)
c. Hubungan Antarpribadi (Empati).
AGEN PERUBAHAN (CHANGE AGENTS)
Peran Utama Agen Perubahan (Havelock, 1973)
a. Sebagai Katalisator
b. Sebagai Pemberi Pemecahaan Persoalan.
c. Sebagai Pembantu Proses Perubahan
d. Sebagai Penghubung.
Ada 7 Tugas Utama Agen Perubahan
a. Menumbuhkan keinginan Masyarakat
b. Membina hubungan dalam rangka perubahan
c. Mendiagnosa Permasalahan Masyarakat
d. Menciptakan Keinginan Perubahan
e. Menterjemahkan keinginan menjadi tindakan nyata.
f. Menjaga kestabilan perubahan
g. Mencapai suatu terminal hubungan
Deskripsi Lengkap pada Yogi Foto Copy
Prodi Teknik Lingkungan FTM UPNYK
TEORI DIVUSI INOVASI
Muncul tahun 1903, ketika sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva menggambarkan suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Terdapat dua sumbu menggambarkan tingkat adopsi dan dimensi waktu.
Teori dikembangkan oleh ROGER & SHOEMAKER (1971) :
a. Studi Divusi mengkaji pesan2 (ide atau gagasan) baru.
b. Pesan baru tsb menimbulkan suatu derajad resiko pada penerima. Penyebarserapan Inovasi menyebabkan masyarakat berubah.
c. Masuknya Inovasi dalam sistem masyarakat disebabkan oleh Komunikasi antar anggota masyarakat. Komunikasi menjadi faktor penting dlam perubahan sosial.
UNSUR-UNSUR PROSES DIVUSI INOVASI (ROGER & SHOEMAKER : 1971) :
a. Suatu Inovasi
b. Dikomunikasikan melalui Saluran Tertentu
c. Dalam suatu Jangka Waktu
d. Di antara anggota sistem sosial.
INOVASI
a. Segala sesuatu Ide, cara-cara, ataupun obyek yang dioperasikan oleh seseorang sebsgsi sesuatu yang baru.
b. Segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya (Havelock, 1973)
Ada 5 atribut, yang menandai Inovasi bagi masyarakat / klien.
a. Keuntungan2 relatif (relative advantage)
b. Keserasian (compatibility)
c. Kermitan (complexity)
d. Dapat dicobakan (triability)
e. Dapat dilihat (observability)
Ada 5 kelompok masyarakat yang menghadapi Inovasi (Roger & Shoemaker 1971) :
a. Inovator
b. Penerima dini (early adopter)
c. Mayoritas dini (early majority)
d. Mayoritas belakangan (late majority)
e. Laggards.
Ada 5 Tahapan penerimaan Inovasi / Tahap Putusan Inovasi.
a. Tahap Pengetahuan
b. Tahap Bujukan
c. Tahap Putusan
d. Tahap Implementasi
e. Tahap Pemastian
AGEN PERUBAHAN (CHANGE AGENTS)
Adalah sejumlah orang yg mempelopori, menggerakkan dan menyebarluaskan proses perubahan sosial.
Menurut Duncan dan Zaltman, harus memliki kompetensi dasar :
a. Kualifikasi Tekhnis
b. Kemampuan Administratif (mengalokasikan waktu)
c. Hubungan Antarpribadi (Empati).
AGEN PERUBAHAN (CHANGE AGENTS)
Peran Utama Agen Perubahan (Havelock, 1973)
a. Sebagai Katalisator
b. Sebagai Pemberi Pemecahaan Persoalan.
c. Sebagai Pembantu Proses Perubahan
d. Sebagai Penghubung.
Ada 7 Tugas Utama Agen Perubahan
a. Menumbuhkan keinginan Masyarakat
b. Membina hubungan dalam rangka perubahan
c. Mendiagnosa Permasalahan Masyarakat
d. Menciptakan Keinginan Perubahan
e. Menterjemahkan keinginan menjadi tindakan nyata.
f. Menjaga kestabilan perubahan
g. Mencapai suatu terminal hubungan
Deskripsi Lengkap pada Yogi Foto Copy
Selasa, 19 Oktober 2010
MAZHAB-2 ETIKA
TUGAS
Mahasiswa Komunikasi FISIP UPNYK kelas Etika Komunikasi
Diminta untuk mempelajari ttg MAZHAB-2 ETIKA & PENGERTIAN ETIKA KOMUNIKASI
Sumber :
Point 3.8 s.d 3.14 Etika Filsafat Komunikasi
terlampir pada handout Kuliah #4.
(Isbandi, M.Si.)
ADA PADA CAMPUS FISIP PHOTO COPY UPNYK.
Mahasiswa Komunikasi FISIP UPNYK kelas Etika Komunikasi
Diminta untuk mempelajari ttg MAZHAB-2 ETIKA & PENGERTIAN ETIKA KOMUNIKASI
Sumber :
Point 3.8 s.d 3.14 Etika Filsafat Komunikasi
terlampir pada handout Kuliah #4.
(Isbandi, M.Si.)
ADA PADA CAMPUS FISIP PHOTO COPY UPNYK.
SISTEMATIKA ETIKA
K#3 : Sistematika Etika (3&4)
DEFINISI ETIKA
Menurut Kattsoff, ditinjau dari pengertiannya Etika dibagi 3 :
Etika Deskriptif : etika bersangkutan dengan nilai dan ilmu pengetahuan tentang baik buruk tingkah laku manusia dalam masyarakat, bersifat pemaparan atau penggambaran saja.
Etika Normatif : etika sebagai ilmu yang mengadakan ukuran2 atau norma2 untuk menilai perbuatan manusia dalam masyarakat, berusaha mencari ukuran umum bagi baik buruknya tingkah laku
Etika Kefilsafatan : etika mempersoalkan tentang arti2 yang dikandung dalam istilah2 kesusilaan (apa yg disebut perbuatan etis, tidak etis dsb.)
ETIKA DESKRIPTIF
Melihat secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dicari manusia dalam hidup ini
Berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya.
Berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-2 yang memungkinkan manusia bertindak etis.
ETIKA NORMATIF
Berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki manusia, apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia, dan apa tindakan yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini.
Berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
Menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.
PERBEDAAN ANTARA ETIKA DESKRIPTIF DAN ETIKA NORMATIF
Etika Deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil.
Etika Normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Jadi etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini.
ETIKA UMUM DAN ETIKA KHUSUS
ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-2 dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana mengambil keputusan etis, teori-2 etika dan prinsip-2 moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolok ukur menilai baik atau buruknya suatu tindakan.
Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-2 moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
Penerapan ini bisa berwujud :
(1) Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-2 moral dasar.
(2) Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA UMUM DAN ETIKA KHUSUS
Dibagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b. Etika sosial, berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
ETIKA KHUSUS
Etika Individual dan Etika Sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia secara langsung maupun kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-2 dunia dan idiologi-2 maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.
ETIKA INDIVIDUAL DAN ETIKA SOSIAL
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi menjadi banyak bidang. Bidang yang aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
(yg akan dibahas = Jurnalistik, Periklanan, Humas dan Penyiaran)
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
DEFINISI ETIKA
Menurut Kattsoff, ditinjau dari pengertiannya Etika dibagi 3 :
Etika Deskriptif : etika bersangkutan dengan nilai dan ilmu pengetahuan tentang baik buruk tingkah laku manusia dalam masyarakat, bersifat pemaparan atau penggambaran saja.
Etika Normatif : etika sebagai ilmu yang mengadakan ukuran2 atau norma2 untuk menilai perbuatan manusia dalam masyarakat, berusaha mencari ukuran umum bagi baik buruknya tingkah laku
Etika Kefilsafatan : etika mempersoalkan tentang arti2 yang dikandung dalam istilah2 kesusilaan (apa yg disebut perbuatan etis, tidak etis dsb.)
ETIKA DESKRIPTIF
Melihat secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dicari manusia dalam hidup ini
Berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya.
Berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-2 yang memungkinkan manusia bertindak etis.
ETIKA NORMATIF
Berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki manusia, apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia, dan apa tindakan yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini.
Berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
Menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.
PERBEDAAN ANTARA ETIKA DESKRIPTIF DAN ETIKA NORMATIF
Etika Deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil.
Etika Normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Jadi etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini.
ETIKA UMUM DAN ETIKA KHUSUS
ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-2 dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana mengambil keputusan etis, teori-2 etika dan prinsip-2 moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolok ukur menilai baik atau buruknya suatu tindakan.
Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-2 moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
Penerapan ini bisa berwujud :
(1) Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-2 moral dasar.
(2) Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA UMUM DAN ETIKA KHUSUS
Dibagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b. Etika sosial, berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
ETIKA KHUSUS
Etika Individual dan Etika Sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia secara langsung maupun kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-2 dunia dan idiologi-2 maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.
ETIKA INDIVIDUAL DAN ETIKA SOSIAL
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi menjadi banyak bidang. Bidang yang aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
(yg akan dibahas = Jurnalistik, Periklanan, Humas dan Penyiaran)
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
Langganan:
Postingan (Atom)